musikkkkkkk
Musik
merupakan seni yang melukiskan pemikiran dan perasaan manusia lewat keindahan
suara. Sebagaimana manusia menggunakan kata-kata untuk mentransfer suatu
konsep, ia juga menggunakan komposisi suara untuk mengungkapkan perasaan
batinnya. Seperti halnya ragam seni lain, musik merupakan refleksi perasaan
suatu individu atau masyarakat. Musik merupakan hasil dari cipta dan rasa
manusia atas kehidupan dan dunianya.
Di
masa lalu, musik juga memiliki peran yang sangat penting di mata masyarakat
primitif. Mereka percaya, musik bisa mencegah datangnya bencana atau kejadian
buruk lain. Sejarah penggunaan musik sebagai media penenang psikologi manusia
telah dirintis sejak masa filosof Yunani kuno, Plato dan Aristoteles. Di Iran
dan dipelbagai literatur kuno soal musik, pengaruh musik terhadap jiwa manusia
telah dibahas secara khusus. Selama berabad-abad yang lalum, bangsa Iran
memanfaatkan terapi musik sebagai metode penyembuhan dan menjadikannya sebagai
faktor yang bisa menjaga kesehatan jiwa. Masalah itu bisa kita temukan dalam
buku Behjatul Arwah karya Safiyuddin Armavi.
Bukti
lainnya yang menunjukkan perhatian para musikus pada pengaruh musik terhadap
jiwa manusia bisa kita lihat dalam tabel yang biasa digunakan dalam musik
tradisional Iran. Dalam tabel itu, setiap jenis suara dan nada dipetakan dalam
pelbagai klasifikasi. Sebagai misal, tabel itu menjelaskan jenis alat musik
seperti apa yang sesuai dengan kondisi ketika matahari terbit. Begitu juga
ketika siang hari, jenis musik apa yang cocok untuk disimak. Menurut tabel itu,
alat musik nava, sejenis alat musik petik khas Persia, merupakan perangkat
musik yang bagus digunakan ketika petang. Berikut ini Anda bisa simak bunyi alat
musik nava. Musik merupakan ragam seni yang berpengaruh terhadap audiennya
tanpa perantara konsep ataupun intepretasi.
Lewat
efeknya yang ajaib, musik dapat membebaskan rasa manusia dari jeratan tekanan
batin, rasa kesepian, panik, dan berbagai gangguan mental lainnya. Karena itu,
kini di berbagai negara marak didirikan berbagai pusat-pusat penelitian maupun
praktek terapi musik. Musik, sesuai dengan susunan interval dan ritmenya
memiliki refleksi khusus yang bisa merangsang sel-sel saraf sehingga perasaan
manusia bisa diperlemah, diperkuat ataupun dialihkan. Pengaruh itu bahkan telah
dibuktikan secara ilmiah di sepanjang fase kehidupan manusia, mulai dari masa
di embrio hingga masa senja. Bahkan bisa berpengaruh juga pada jenis mahluk
hidup lainnya seperti tumbuhan.
Tidak
hanya itu saja, musik terbukti berpengaruh pada sistem saraf sensorik-motorik,
sistem saraf sadar, dan sel saraf lain. Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga
Aplikasi Musik di Iran mengenai fungsi terapan musik terhadap kesehatan fisik dan
mental manusia menunjukkan bahwa terapi musik bisa menjadi metode penyembuhan
baru pada gangguan mental di kalangan anak-anak cacat mental. Penelitian itu
membuktikan, terapi musik bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mengontrol
tindakan hyperaktif di kalangan anak-anak cacat mental serta bisa menciptakan
perubahan mental dan perilaku yang signifikan.
Dr.
Ali Zadeh Muhammadi, seorang psikolog klinis yang sudah hampir 20 tahun
melakukan penelitian dan praktek terapi musik. Menurutnya, selain jenis musik,
alat musik juga punya peranan penting. Untuk langkah awal, sebaiknya
menggunakan jenis alat musik ritmik seperti jenis instrument musik pukul. Dr
Ali Zadeh berpendapat, anak-anak cacat mental tidak bisa diajari dengan
alat-alat musik yang rumit semacam gitar. Tapi mesti dengan instrumen yang
sederhana dan mudah dimainkan serta cepat menjalin hubungan. Ditambahkannya,
musik di kalangan orang-orang tuna netra memiliki pengaruh yang sangat ajaib,
khususnya terhadap daya pendengaran mereka, sehingga banyak berpengaruh positif
terhadap kualitas hidupnnya. Seruling merupakan instrumen penting dalam terapi
music
terapi
musik.
Biasanya,
para terapis membagi tema musik ke dalam lima jenis, yaitu musik bertema
trance, melow, semangat, ceria, dan relaksasi. Musik bertema trance adalah
jenis musik yang mengandung ungkapan rasa ceria yang luar biasa. Jenis musik
semacam itu cocok untuk menyembuhkan orang yang mengalami tekanan mental atau
stress. Musik yang berirama melow dan melankolis merupakan jenis musik yang menyayat
perasaan. Musik semacam itu bisa menurunkan asupan sejumlah komposisi kimia
dalam otak. Musik bertema melankolis dalam kondisi normal bisa mengurangi rasa
sakit dan nyeri. Sementara jika didengar di saat sedih, bisa mempermudah bagi
seseorang untuk menahan rasa duka. Namun, penggunaan musik bertema seperti itu
secara berlebihan bisa menurunkan semangat dan kebencian. Musik bertema
semangat merupakan jenis musik yang bisa membangkitkan reaksi kuat dan cepat
yang disertai dengan tanggapan fisiologis.
Para
komposer musik menggunakan tema semacam itu untuk meningkatkan gerakan badan.
Jenis musik ini sangat diminati kalangan muda. Jika dimanfaatkan secara tepat,
jenis musik ini bisa berdampak positif dan meningkatkan semangat. Jenis keempat
adalah musik yang bernada ceria dengan sentuhan irama yang menenangkan. Musik
seperti ini bisa meningkatkan gairah hidup dan memunculkan perasaan positif,
sehingga bisa meningkatkan daya kerja. Jenis musik ini juga sangat bermanfaat
untuk membangkitkan semangat dan keceriaan di kalangan anak-anak ataupun
remaja. Jenis yang terakhir adalah musik relaksasi. Musik ini bernuansa lembut,
monoton, dan datar. Kelembutan musiknya itu bisa menenangkan perasaan dan emosi
manusia. Musik jenis ini dimanfaatkan untuk meningkatkan konsentrasi dan
menyeimbangkan emosi. Sejatinya ada banyak cara untuk menciptakan ketenangan
batin. Sebagian orang berusaha memperolehnya dengan mendengarkan musik, ada
yang dengan membaca buku, melakukan wisata alam, atau bahkan hanya sekedar
makan dan tidur.
Yang
jelas, sains telah membuktikan bahwa beberapa jenis musik bisa membantu jiwa
manusia menjadi lebih tenang dan seimbang. Beberapa jenis musik juga bahkan
bisa menghapus rasa tertekan dan stress. Adanya pengaruh positif musik terhadap
fisik dan psikologis manusia itu, menjadikan musik dimanfaatkan sebagai media
penyembuhan. Tentu saja penggunaan musik harus digunakan secara proporsional.
Tidak semua jenis musik bisa didenger dalam segala kondisi bahkan terkadang
kita justru memerlukan keheningan untuk menenangkan perasaan. Bahkan suara
nyanyian burung, gemercik aliran sungai, tetesan air hujan dan gemuruh ombak
bisa menjadi musik terindah untuk menenangkan perasaan jiwa. Sejatinya musik
tidak hanya terbatas dari suara yang dihasilkan dari instrumen atau suara
manusia semata, tapi suara alam juga bisa menjadi sumber musik yang sangat
menawan. Karena itu, jangan pernah melupakan suara nyanyian alam dan dengarlah
keindahan musikalnya yang begitu natural.
Keterkaitan
Antara Musik dan Manusia
Tanpa ada bentuk aktivitas manusia, tidak mungkin ada bunyi musikal atau karya
musik yang tercipta. Manusia sendiri adalah sumber musik. Musik disini tidak
hanya bunyi-bunyi dari alat-alat musik yang dipadukan. Musik disini berasal
dari bunyi detak jantung dan nafas, yang tentunya bila dipadukan dengan baik
akan menjadi nada yang indah. seluruh individu diberikan anugerah berupa
potensi berbahasa musikal. Setiap diri kita sejak lahir diberi kesempatan untuk
berbahasa secara musikal. Itulah sebabnya bayi manapun bisa diajak menari,
menyanyi serta mencoba mengikuti ritme atau ketukan. Musik juga mempunyai
pengaruh yang besar bagi pikiran dan tubuh kita. Contohnya, ketika Anda
mendengarkan suatu alunan musik (meskipun tanpa lagu), seketika Anda bisa
merasakan efek dari musik tersebut. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat,
ritme, dan harmony. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan
harmony mempengaruhi roh. Sehingga ada musik yang membuat Anda gembira, sedih,
terharu, terasa sunyi, semangat, mengingatkan masa lalu dan lain-lain. Tidak
jarang lagi pengetahuan mengenai musik yang memengaruhi jiwa maupun kelakukan
pendengar. Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah
dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam
konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan
dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan “head banger”,
suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan
tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Satu lagi peranan musik yang
tidak bisa dipungkiri berpengaruh langsung pada otak kita. Pasti, ketika
mendengar lagu-lagu yang pernah kita kenal, otak akan memutar semua memori yang
ada.
Mekanisme
Musik Dalam Mempengaruhi Manusia.
Anda harus memahami bahwa pola gelombang otak manusia untuk menentukan
aktivitas tubuh seseorang dan pikiran. Oleh karena itu, yang sebelumnya
diketahui bahwa musik berpengaruh lebih besar pada otak kanan, ternyata juga memengaruhi
otak kiri akibat pancaran yang dilakukan oleh Corpus Callosum dengan
menyebarkan informasi dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa musik memengaruhi kedua belah otak.
Akustik, suara, vibrasi, dan fenomena motorik sudah ditemukan sejak ovum
dibuahi oleh sperma untuk membentuk manusia baru. Pada saat itu terdapat
berbagai proses yang melingkupi telur dalam kandungan, berproduksi dengan
gerakan dinamis, mempunyai vibrasi, dan memiliki suara tersendiri. Misalnya,
bunyi yang dihasilkan oleh dinding rahim, denyut jantung, aliran darah, bisikan
suara ibu, suara dan desah napas, mekanisme gerakan dan gesekan tubuh bagian
dalam, gerakan otot, proses kimiawi dan enzim, serta banyak lainnya. Semua ini
dapat dikelompokkan sebagai sebuah kesempurnaan suara.
Semua jenis bunyi atau bila bunyi tersebut dalam suatu rangkaian teratur yang
kita kenal dengan musik, akan masuk melalui telinga, kemudian menggetarkan
gendang telinga, mengguncang cairan di telinga dalam serta menggetarkan sel-sel
berambut di dalam Koklea untuk selanjutnya melalui saraf Koklearis menuju ke
otak. Ada 3 buah jaras Retikuler atau Reticular Activating System yang
diketahui sampai saat ini. Pertama: jarak retikuler-talamus. Musik akan diterima
langsung oleh Talamus, yaitu suatu bagian otak yang mengatur emosi, sensasi,
dan perasaan, tanpa terlebih dahulu dicerna oleh bagian otak yang berpikir
mengenai baik-buruk maupun intelegensia. Kedua: melalui Hipotalamus
mempengaruhi struktur basal “forebrain” termasuk sistem limbik, Hipotalamus
merupakan pusat saraf otonom yang mengatur fungsi pernapasan, denyut jantung,
tekanan darah, pergerakan otot usus, fungsi endokrin, memori, dan lain-lain,
dan ketiga: melalui axon neuron secara difus mempersarafi neokorteks. Seorang
peneliti Ira Altschuler mengatakan “Sekali suatu stimulus mencapai
Talamus, maka secara otomatis pusat otak telah diinvasi.”
Gilman dan Newman (1996) mengemukakan bahwa Planum Temporale adalah bagian otak
yang banyak berperan dalam proses verbal dan pendengaran, sedangkan Corpus
Callosum berfungsi sebagai pengirim pesan berita dari otak kiri kesebelah kanan
dan sebaliknya. Seperti kita ketahui otak manusia memiliki dua bagian besar,
yaitu otak kiri dan otak kanan. Walaupun banyak peneliti mengatakan bahwa
kemampuan musikal seseorang berpusat pada belahan otak kanan, namun pada proses
perkembangannya proporsi kemampuan yang tadinya terhimpun hanya pada otak kanan
akan menyebar melalui Corpus Callosum kebelahan otak kiri. Akibatnya, kemampuan
tersebut berpengaruh pada perkembangan linguistik seseorang. Dr. Lawrence
Parsons dari Universitas Texas San Antonio menemukan data bahwa harmoni, melodi
dan ritme memiliki perbedaan pola aktivitas pada otak. Melodi menghasilkan
gelombang otak yang sama pada otak kiri maupun kanan, sedangkan harmoni dan
ritme lebih terfokus pada belahan otak kiri saja. Namun secara keseluruhan,
musik melibatkan hampir seluruh bagian otak.
Sebuah survey pada suatu seminar menunjukkan bahwa pendengarnya mengatakan
bahwa mereka tidak mendengarkan syair dari sebuah lagu. Namun pada waktu lagu
tersebut diperdengarkan, separuh dari mereka dapat melagukannya tanpa mereka
sadari. Hal ini menunjukkan adanya memori dalam otak yang mampu merekam apa
saja yang masuk melalui pendengarannya bersama musik, tanpa mampu dicerna oleh
akal sehat. Kesimpulannya tidak ada lagu/musik yang mampu dicegah masuknya ke
dalam otak kita, walaupun kita berkata “saya tidak mendengarkan syairnya”.
Penyebab
Musik Disukai
- Cerita lagu itu seolah mewakili kisah hidup anda
irama dan Lyric lagu mewakili
suasana hati sang pendengar itu sendiri:
Patah Hati
Misalnya, anda sedang patah hati,
lalu tanpa sengaja anda mendengar penyanyi yang mungkin bahkan tidak anda
kenali sebelumnya melantunkan lagu patah hati yang sesuai dengan keadaan anda.
Maka dengan segera anda akan menobatkan lagu itu sebagai lagu terbaik, untuk
saat itu setidaknya.
Jatuh cinta
Atau, anda sedang jatuh cinta, maka
lagu-lagu romantis akan dengan mudah tertangkap radar pendengaran anda, lalu
memilih salah satunya sebagai lagu favorite.
- Lagu tersebut hadir disaat yang tepat dengan salah satu fragmen kehidupan anda tanpa disadari atau disengaja.
Misalnya saja, disuatu hari yang
biasa, saat anda sedang bercanda bahagia dengan beberapa orang sahabat, ngobrol
santai, lalu secara kebetulan acara TV/radio sedang memutar program lagu
pilihan, atau pemutar musik di komputer atau yang sejenis memperdengarkan
sebuah lagu, dan tiba-tiba salah seorang dari sahabat anda bercerita sesuatu
tentang lagu itu, sehingga mengalirlah pembahasan tentang lagu itu. Maka, di
suatu masa yang akan datang, anda akan menyukai lagu tersebut saat mendengarnya
kembali.
- Karena orang yang anda sukai mengenalkan lagu itu pada anda.
- Seorang mempersembahkan lagu itu untuk anda.
- Hanya karena menurut sense anda irama lagu tersebut sesuai dengan suasana saat mendengarkannya.
- Lagu itu merupakan Ost atau bagian dari cerita favorit anda.
Dampak
Musik Bagi Manusia.
- Dampak Positif
Berikut ini adalah beberapa dampak
positif dari musik berdasarkan referensi penelitian-penelitian yang sudah ada
untuk merealisasikan.
Musik yang Anda dengar akan merangsang sistem saraf yang akan menghasilkan
suatu perasaan. Perangsangan sistem saraf ini mempunyai arti penting bagi
pengobatan, karena sistem saraf ambil bagian dalam proses fisiologis. Dalam
ilmu kedokteran jiwa, jika emosi tidak harmonis, maka akan mengganggu sistem
lain dalam tubuh kita, misalnya sistem pernapasan, sistem endokrin, sistem
immune, sistem metabolik, sistem motorik, sistem nyeri, sistem temperatur dan
lain sebagainya. Semua sistem tersebut dapat bereaksi positif jika
mendengar musik yang tepat. Musik akan merangsang sistem ini secara otomatis,
walaupun seseorang tidak menyimak atau memperhatikan musik yang sedang diputar.
Jika sistem ini dirangsang maka seseorang akan meningkatkan memori, daya ingat,
kemampuan belajar, kemampuan matematika, analisis, logika, inteligensi dan
kemampuan memilah, disamping itu juga adanya perasaan bahagia dan timbulnya
keseimbangan sosial.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, dunia kedokteran serta psikologi
membuktikan bahwa musik bisa dijadikan terapi dan berpengaruh dalam
mengembangkan imajinasi dan pikiran kreatif. Musik juga mempengaruhi sistem
imun, sistem saraf, sistem endokrin, sistem pernafasan, sistem metabolik,
sistem kardiovaskuler dan beberapa sistem lainnya dalam tubuh. Dari berbagai
penelitian ilmiah tersebut, dinyatakan bahwa musik dapat digunakan untuk
membantu penyembuhan beberapa penyakit seperti insomnia, stress, depresi, rasa
nyeri, hipertensi, obesitas, parkinson, epilepsi, kelumpuhan, aritmia, kanker,
psikosomatis, mengurangi rasa nyeri saat melahirkan, dan rasa nyeri lainnya.
Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, “Dasar-dasar musik
klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan
besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga
manusia”.
Suatu jenis musik yaitu musik klasik
yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah
akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan
C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.
Mary Griffith, seorang ahli fisiologi, mengemukakan bahwa hipotalamus
pada otak mengontrol berbagai fungsi saraf otonom, seperti bernapas, denyut
jantung, tekanan darah, pergerakan usus, pengeluaran hormon tiroid, hormon
adrenal cortex, hormon sex, bahkan dapat mengontrol seluruh metabolisme tubuh
kita. Sebuah studi menemukan adanya peningkatan Luteinizing Hormone (LH) hormon
sex yang merangsang pematangan sel telur pada saat mendengarkan musik.
O’Sullivan (1991) mengemukakan bahwa musik mempengaruhi imaginasi,
intelegensi dan memori, di samping juga mempengaruhi hipofisis di otak untuk
melepaskan endorfin. Endorfin kita ketahui dapat mengurangi rasa nyeri,
sehingga dapat mengurangi penggunaan obat analgetik, juga menurunkan kadar
katekolamin dalam darah, sehingga denyut jantung menurun.
Penderita insomnia yang mendengarkan pianio klasik selama empat minggu
mengalami perbaikan tidur. Terapi ini meningkatkan kadar melatonin, zat kimia
otak yang mendorong tidur nyenyak.
Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang
didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan
bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang
berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan
mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik
diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya
dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada
anak.
Menurut Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik
dapat berperan dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat
berpengaruh ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari kanan
ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak.
Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi,
yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.
Hasil penelitian yang dilakukan Campbel menunjukkan bahwa musik mampu
menghasilkan stimulan yang bersifat ritmis. Stimulan ini kemudian ditangkap
oleh pendengaran kita dan diolah di dalam sistem saraf tubuh serta kelenjar
otak yang mereorganisasikan interpretasi bunyi ke dalam ritme internal
pendengarnya. Ritme internal ini mempengaruhi metabolisme tubuh manusia
sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih baik. Metabolisme yang lebih baik
akan mengakibatkan tubuh mampu membangun sistem kekebalan yang lebih baik
sehingga tubuh menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit.
Selain itu musik juga dapat meningkatkan intelegensi. Penyebabnya adalah karena
rangsangan ritmis mampu meningkatkan fungsi kerja otak. Ritme internal yang
dihasilkan musik membuat saraf-saraf otak bekerja, rasa nyaman dan tenang yang
distimulasi musik membuat fungsi kerja otak bekerja optimal. Bila hal ini
sering dilakukan, fungsi kerja otak kita akan semakin prima, sehingga kemampuan
berpikir kita lebih jernih dan tajam, serta mencegah kepikunan (alzheimer).
Perlu kita ketahui bahwa bagian kanan otak kita berkaitan dengan kecerdasan dan
perkembangan artistik dan kreatif, bahasa, musik, imajinasi, warna, pengenalan
diri, sosialisasi dan pengembangan kepribadian. Karena itu, rangsangan ritmis
dari musik yang diperdengarkan juga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa,
meningkatkan kreativitas, serta meningkatkan konsentrasi dan daya ingat kita.
- Dampak Negatif
Setelah beberapa dampak positif
diuraikan di atas, bukan berarti musik selalu baik apabila didengar. Jika ada
positif, pasti ada negatifnya. Berikut beberapa uraian tentang dampak negatif
dari musik apabila tidak diporsikan penggunaannya.
Dampak negatif yang pertama yaitu, mendengarkan musik terlalu keras.
Musik bisa mengisolasi pendengarnya dari khalayak ramai. Ketika mengemudi,
orang-orang biasanya mendengarkan musik untuk mengurangi kebisingan terhadap
situasi sekitar. Akhirnya mereka pun mengencangkan volume untuk menghadang
suara dari luar. Sebagai perbandingan, level berbicara manusia adalah
sekitar 60 desibel, jalanan yang ramai sekitar 80 desibel, mesin potong
melingkar 90 desibel, bayi menangis 11 desibel. Sedangkan ambang bahaya untuk
pendengaran adalah 125 desibel. Dan sekali saja mendengarkan kebisingan lebih
dari batas itu dapat merusak pendengaran secara permanen.
Kedua yaitu, peneliti David A. Noebel menemukan bahwa ritme musik
rock dapat mengganggu kadar insulin dan kalsium dalam tubuh.
Sumber makanan otak kita didapat dari gula dalam darah, namun bila darah lebih
banyak dialirkan ke organ lainnya, maka otak akan kekurangan gula. Dengan
demikian daya pikir dan pertimbangan moral juga menjadi tumpul. Tidak
heran bila orang mendengar musik rock dalam sebuah konser, mereka dapat berbuat
apa saja, tanpa pertimbangan. Jantung manusia berdenyut 70-80 kali per menit
dengan teratur, denyut jantung bila didengar dengan stetoskop akan berbunyi
DUG-dug-…… Bunyi pertama lebih keras, bunyi kedua lebih lemah, diikuti fase
istirahat. Musik yang baik memiliki ritme DUG-dug-DUG-dug untuk 4/4 dan
DUG-dug-dug untuk 3/4. Ini adalah jenis irama yang sehat, karena sesuai
dengan ritme tubuh. Musik rock memiliki ritme yang terbalik, dug-DUG-dug-DUG.
Ritme yang lebih keras jatuh pada ritme ke-dua dan ke-empat. Atau
dug-dug-DUG, sehingga ritme keras jatuh pada ritme ke-tiga, dikenal dengan istilah
“back beat”/anapestic beat. Ritme keras bahkan dapat jatuh pada sembarang
tempat, disebut sebagai “break beat”. Ritme demikian berbahaya bagi
tubuh, karena berlawanan dengan ritme tubuh yang sehat.
Ketiga, tak jarang terdengar anak kecil mencoba melantunkan
lagu-lagu cinta orang dewasa. Padahal, tak sedikit lagu cinta orang dewasa
berisi lirik-lirik yang menyinggung seksualitas. Seperti diketahui, usia
anak-anak adalah usia terbaik untuk menyerap informasi. Lagu-lagu dan lirik di
dalamnya bisa dengan mudah terserap oleh anak dan dianggap sebagai pengetahuan.
Studi terkini dari Cougar Hall yang diterbitkan dalam Springer’s Journal
Sexuality and Culture mengatakan, referensi seksual dalam lagu bisa membuat
anak berpikir nilai diri mereka dalam tatanan masyarakat adalah untuk
memberikan kepuasan seksual kepada orang lain, berisiko memandang rendah arti
tubuhnya, depresi, masalah dengan makanan, penyalahgunaan obat-obatan, dan
lainnya.
Keempat, kebiasaan tidur sambil mendengarkan musik menurut sebagian
orang kondisi seperti itu membuat mereka menjadi lebih cepat tertidur. Tetapi
pada kenyataannya setelah terbangun mereka merasa lebih tegang (stress). Bahkan
ada yang merasa seperti tidak tidur semalaman. Pada saat kita tidur sebetulnya
otak tidak pernah tidur. Otak selalu menjalankan aktivitasnya walaupun tidak
sesibuk seperti di saat bangun, yaitu menjalankan sistem metabolisme tubuh.
Pada malam hari, seiring menurunnya aktivitas tubuh, ritme gelombang otak pun
mengalami penurunan. Namun apabila kita tidur sambil mendengarkan musik, maka
gelombang suara yang dipancarkan oleh peralatan tersebut tetap diterima oleh
indera pendengaran kita. Gelombang suara diterima oleh alat pendengaran
di dalam telinga. Gelombang-gelombang tersebut akan diteruskan ke otak kita.
Otak yang harusnya beristirahat akan kembali terangsang untuk bekerja dan
mengolah informasi yang masuk. Apabila hal ini berlangsung sepanjang malam,
berarti kita hanya tidur menurut tubuh luar, tetapi tidak menurut otak.
Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi
20 April 2008
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
Kognitif dan Musik
Kognitif
merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang
berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan,
memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.
Penelitian
menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk
segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional
intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron
mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik
sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri
dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan
otak kiri itu.
Mengacu pada
perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh
perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi
adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal
dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan
sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat
terhadap ruang (spatial),
arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari
berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah
melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan
urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga
diperkuat melalui aktivitas gerak.
Gallahue,
(1998) mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui
stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari
musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar
anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak
dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk
kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.
Hasil
penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori
neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi
sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan,
suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri
dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin
kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan
matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.
Selain itu
juga, Gordon Shaw (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika,
logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik.
Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas
eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan
matematika menguat.
Musik berhasil
merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih
kompleks. Didukung pula oleh Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari
hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih
pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi,
ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut
skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika.
Daryono
Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang
kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian
penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik
sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan
belahan otak kanannya. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan
otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang
berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam
perasaannya.
Implementasi
dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi
keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya yaitu di SMP, dan begitu juga
dengan pendidikan kesenian di SMP kan mempengaruhi keberhasilan studi pada masa
di SMA. Dan kesenian di SMA, mau tidak mau menjadii factor penentu dalam
peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik.
Musik dan Kecerdasan Emosi
Sternberg
dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan
mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali
perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu
mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas
perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan
secara mantap.
Kemampuan
mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya
sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya
secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap
dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya
disesali di kemudian hari.
Kepekaan
akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati
musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan
meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas
perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap
dan membentuk kepribadian yang tangguh.
Kemampuan
motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk
melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya
unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat
untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Seperti
apa yang kita cita-citakan dapat diraih dan mengisyaratkan adanya suatu
perjalanan yang harus ditempuh dari suatu posisi di mana kita berada ke titik
pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu.
Kemampuan
membina hubungan bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi
orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu remaja
untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan
perkembangan terhadap emosional mereka.
Remaja,
merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang
lain untuk memanusiakan dirinya. Remaja ingin dicintai, ingin diakui, dan
dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapatkan tempat dalam
kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsur-unsur
yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi remaja.
Kecerdasan
emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan
seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi
anak dapat berkembang secara lebih optimal.
Idealnya
seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial
emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal “Emotional
Intelligences (EQ)”, memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan
demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat
ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional
sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw
(1996).
Menurut
Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik dapat berperan
dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat berpengaruh
ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari
kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di
otak.
Efek
atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran
pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh hemisfer otak
kanan. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses
perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia
yang manusiawi.
Kehalusan
dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain,
menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan,
sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio
adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan
baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran (blending
antara otak kanan dan kiri itu).
Proses
mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan
pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent
terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta
mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang
dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.
Campbell
2001 dalam bukunya efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman,
Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan
simpati.
Musik
digambarkan sebagai salah satu “bentuk murni” ekspresi emosi. Musik mengandung
berbagai contour, spacing, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang
luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia.
WELCOME AT DEGALTAR
Dedicated to my beloved Queen: "KHOLIFATUL
AZIZAH", son: "ALVAN AZIZ ELFAIZY", and daughters: "DIANA
GALTAR", "NAZALIA AURA PARIOSY" ((Berani hidup tak takut mati,
takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, sekali hidup hiduplah yang
berarti...)) Siapa BERANI, bersama DEGALTAR ayo gabung di sini!!!
Kamis, 06 Mei 2010
PENGARUH MUSIK TERHADAP PENDIDIKAN DAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA-SEKOLAH
PENGARUH MUSIK TERHADAP PENDIDIKAN DAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA-SEKOLAHOleh :
KHOLIFATUL AZIZAH, S.Pd.I.
(Kepala RA dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah)
DEPARTEMEN AGAMA KABUPATEN PAMEKASAN
TAHUN 2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Musik merupakan suatu kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena musik dapat menjadikan orang merasa senang, gembira dan nyaman. Musik bisa menjadi efektif di bidang akademis dengan membantu pembentukan pola belajar, mengatasi kebosanan dan menangkal kebisingan eksternal yang mengganggu. Musik juga dapat membantu kita merasa bertenaga, percaya diri, mengurangi kesedihan, menghapus kemarahan, melepaskan stress serta mengurangi rasa takut dan cemas.
Musik harus dikenalkan sedini mungkin pada anak bahkan sejak dalam kandungan anak sudah dirangsang dengan jenis musik yang dapat mengembangkan kecerdasan anak yaitu jenis musik klasik. Memperdengarkan musik atau suara lain yang menyenangkan bagi bayi yang masih dalam kandungan ternyata bisa menstimulasi sistem pendengaran mereka dan berpengaruh positif pada respons mereka terhadap musik dan suara-suara lain setelah mereka lahir. Bayi-bayi ketika di dalam kandungan mendengarkan musik yang rileks dan menenangkan ternyata tumbuh dan bertambah berat badannya dengan mudah serta lebih damai dengan diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya, begitu mereka hadir di “dunia nyata” (John M. Ortiz, 2002:1).
Lingkungan terutama orang tua berperan penting untuk menumbuh kembangkan kecerdasan emosi anak yaitu salah satu diantaranya lewat musik. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosionalnya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Musik yang didengar berupa irama dan nada-nada yang teratur dari perpaduan seimbang antara beat, ritme dan harmoni (Bambang Sujiono dan Nurani Yuliani, 2005: 119).
Sebagai orang tua harus memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih sendiri musik yang ingin ia dengarkan di waktu-waktu luang dan mengizinkan anak untuk menggunakan kebebasan berekspresi dalam batasbatas tertentu, akan memberi pelajaran mengenai rasa tanggung jawab sekaligus menumbuhkan kemampuan mengendalikan diri. Disamping itu, orang tua harus memonitor jenis musik pilihan anak untuk memastikan agar pilihan musik tersebut bisa diterima oleh sistem kepercayaan dan standar keluarga.
Orang tua seringkali beranggapan bidang musik termasuk salah satu bidang yang bila ditekuni tidak bisa menjamin masa depan. Oleh karena itu, orang tua lebih cenderung mengarahkan anak pada bidang-bidang ilmu kognitif dan beranggapan bahwa dengan menguasai ilmu kognitif seseorang mudah mencapai keberh asilan serta derajat terpandang dalam masyarakat. Padahal sebetulnya dengan musik anak akan dapat mencurahkan pikiran, rasa dan karsa dalam setiap aktivitasnya. Selain kenyataan di atas, orang tua juga belum memahami cara menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak. Seorang anak yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik seringkali dikarenakan orang tua kurang bisa memahami perasaan dan kehendak si anak. Luapan emosi yang tidak terungkap secara fokus dan jelas dapat mengarah pada perilaku destruktif (merusak). Sebagai contoh, anak yang tidak bisa mengungkapkan bahwa dirinya sesungguhnya merasa cemburu karena mainan adiknya lebih bagus mungkin akan bertindak agresif dengan merusakkan mainan adiknya atau memukul adiknya.
Musik harus dikenalkan sedini mungkin pada anak-anak agar anak dapat meluapkan emosinya lewat musik tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak orang tua yang belum memahami bahwa pengenalan musik sejak dini dapat menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak. Selain itu, ada juga orang tua yang memaksakan anaknya untuk dapat memainkan jenis alat musik tertentu. Sebagai orang tua harus memahami kesiapan anak untuk belajar musik. Misalnya kemampuan fisik dan mental anak.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis ingin menelaah tentang bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka masalah yang timbul dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
C. PEMBATASAN MASALAH
Musik adalah salah satu cabang seni yang tertua. Musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan penghidupan manusia (AT. Mahmud, 1995: 8). Kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali emosi diri yaitu kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap (Sternberg dan Salovery dalam Shapiro (1997)).
Masalah dibatasi pada :
a. Pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
b. Usia yang dibatasi adalah 4 – 5 tahun.
D. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : Untuk mengetahui bagaimana pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
E. MANFAAT
a. Manfaat Teoritis
Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah cakrawala/khasanah pengetahuan tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
b. Manfaat praktis
1. Bagi peneliti
Ingin mencari pemecahan masalah tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
2. Bagi guru
Diharapkan memberikan pembelajaran musik sesuai dengan perkembangan anak usia TK.
3. Bagi orang tua
Diharapkan memperkenalkan musik sedini mungkin kepada anak dan orang tua juga memahami kesiapan anak untuk belajar musik.
***
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. HAKIKAT MUSIK
1. Pengertian Musik
Definisi musik sangat beragam. Menurut Kamtini dan Husni Wardi Tanjung dalam bukunya “Bermain Melalui Gerak dan Lagu di Taman Kanak-kanak. Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia. Sejak anak dilahirkan, dia telah memiliki aspek tertentu dari musik yang menjadi bagian pengalaman alami dari kehidupannya”. (2005 : 9)
The starting time for learning about music is the same as the starting time for any learning (Wikipedia Indonesia, Copyright @ 2006, www.google.com). Saat mulai belajar tentang musik sama dengan saat mulai belajar apa saja. Musik adalah wadah segala jenis pendidikan kanakkanak. Hal itu muncul secara alami menjadi kebutuhan kanak-kanak.
Menurut Allegory of musik karya Lorenzo Lippi, musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam.
Menurut Aristoteles (Wikipedia Indonesia, copyright @ 2006, www. Google.com). musik yaitu mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, jiwa patriotisme. Mendengarkan musik dapat membantu mengurangi sedikit beban pikiran melalui bernyanyi dapat mencurahkan perasaan yang ada dalam hati. Misalnya di saat sedih mendengarkan lirik musik yang sedih maka perasaan akan lega bahkan sampai menangis.
2. Unsur-unsur musik
Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manusia. Sejak lahir anak telah memiliki beberapa unsur musik seperti suara dan melodi. Beberapa unsur musik diantaranya :
a. Suara: Dalam musik gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik dijelaskan dalam tala (tinggi nada), durasi (beberapa lama suara ada), intensitas dan timbre (warna bunyi).
b. Nada: Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang miliki tinggi nada tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda, tangga nada yang paling lazim adalkah tangga nada mayor, tangga nada minor dan tangga nada pentatonik.
c. Ritme/Irama: Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan.
d. Melodi: Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendiri yaitu tanpa iringan atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu.
e. Harmoni: Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan. Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.
f. Notasi: Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu digambarkan secara horizontal. Musik adalah perpaduan keseimbangan antara unsur-unsur musik. Unsur-unsur musik diantaranya suara, nada, ritme, melodi, harmoni dan notasi. Musik menjadi bagian alami dari kehidupan.
Contoh : dalam dekapan seorang ibu, anak mendengar suara ibu melantunkan snandung yang akhirnya membuat lelap tidurnya.
3. Instrumen-instrumen musik
Alat musik pertama dikenal manusia berasal dari bunyi yang dihasilkan dari bahan manusia itu sendiri. Tepukan tangan, hentakan kaki atau pukulan tangan pada anggota badan yang lain merupakan pengiring ritmik yang memberikan nuansa tertentu. Beberapa instrumen musik diantaranya :
a. Alat-alat musik tradisional
1. Alat musik petik. Contoh : gitar, kecapi, harpa, gambus, mandolin.
2. Alat musik gesek. Contoh : biola, rebab.
3. Piano
4. Alat musik tiup. Contoh : seruling, terompet, harmonika, pianika
5. Alat musik pukul/perkusi. Contoh : tamborin, kolintang.
b. Alat musik modern. Contoh : Gitar listrik, organ, drum.
Beberapa instrumen di atas dapat mencerdaskan emosi anak. Apabila anak memainkan jenis alat musik tertentu misalnya piano. Anak akan mengungkapkan ekspresinya melalui alat musik piano tesebut (Wikipedia Indonesia, copyright @ 2006. www.google.com)
B. HAKIKAT KECERDASAN EMOSI
1. Pengertian Kecerdasan Emosi
Definisi kecerdasan emosi pertama kali disebutkan dalam majalah Time edisi Oktober 1995 oleh psikolog Peter Salovey dari Universitas Yale dan John Mayer dari Universitas Hampshire. Kecerdasan emosi adalah sebuah konsep untuk memahami perasaan seseorang, memahami empati seseorang terhadap perasaan orang lain dan memahami “bagaimana emosi sampai pada tahap tertentu menggairahkan hidup” (Kumpulan artikel Kompas, 2001: 181).
Namun konsep kecerdasan emosi baru memasuki forum publik setelah psikolog Danrel Goleman dari Universitas Harvard dalam buku “Emotional Inteligence” (1994) menyatakan bahwa “Kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang 80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional”. (Kumpulan artikel Kompas, 2001: 182).
Kecerdasan emosional (EQ) adalah proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup. Memang ada temperamen khusus yang dibawa seorang anak sejak ia dilahirkan, tetapi pola asuh orang tua dan pengaruh lingkungan akan membentuk “cetakan emosi seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya sehari-hari” (Bambang Sujiono dan Yuliani Nurani Sujiono, 2005: 115).
2. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi
Menurut Elisabeth B. Hurlock dalam bukunya “Perkembangan Anak Jilid I” (1997: 214) menjelaskan metode belajar yang menunjang perkembangan emosi sebagai berikut :
a. Belajar secara coba-coba
Anak belajar secara coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.
b. Belajar dengan cara meniru
Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru.
d. Belajar melalui pengkondisian
Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.
e. Pelatihan
Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi yaitu reaksi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Peran orang tua, guru dan lingkungan sekitar sangat menentukan dalam proses belajar anak. Mereka harus sabar dan menjadi tauladan bagi anak-anak mereka. Apabila anak melakukan hal-hal yang positif maka orang tua tidak segan-segan memberikan pujian.
3. Prinsip-prinsip mengasuh anak dengan kecerdasan emosi
Ada lima prinsip mengasuh anak dengan yang menjadi tujuan bagi orang tua dan anak. Berusaha mencapai tujuan tersebut akan menciptakan keluarga yang harmonis dan membuat anak-anak tumbuh dewasa dengan disiplin diri dan tanggung jawab (Maurice J. Elias, 2000: 39).
1. Sadari perasaan sendiri dan perasaan orang lain. Perasaan adalah sesuatu yang sulit disadari.
2. Tunjukkan empati dan pahami cara pandang orang lain. Empati adalah kemampuan untuk menyelami perasaan orang lain. Untuk dapat melakukan hal ini, seorang harus menyadari baik perasaan dirinya maupun perasaan orang lain.
3. Atur dan atasi dengan positif gejolak emosional dan perilakunya.
4. Berorientasi pada tujuan dan rencana positif.
Salah satu hal terpenting tentang manusia adalah dapat menetapkan tujuan dan membuat rencana untuk mencapai tujuan. Teori kecerdasan emosional menyatakan bahwa hal ini memiliki implikasi penting yaitu sebagai berikut :
a. Mengakui kekuatan ampuh optimisme dan harapan.
b. Dalam berusaha mencapai tujuan, ada waktu-waktu ketika lebih atau kurang efektif.
c. Orang tua dapat memperbaiki cara dalam penetapan dan perencanaan tujuan sebagaimana menghendaki anak-anak melakukannya.
5. Gunakan kecakapan sosial positif dalam membina hubungan. Contoh kecakapan sosial yaitu komunikasi dan pemecahan masalah.
Sebagai orang tua harus memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak. Namun orang tua tetap mengontrol anak walaupun tidak terlalu ketat. Selain itu orang tua dapat memahami perasaan anak, apakah anak sedang sedih atau senang.
C. Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak Melalui Musik
“Musik sangat mempengaruhi manusia”, ujar EV. Andreas Christanday seorang musikus dalam suatu ceramah musik. “Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi roh”. Sementara apabila hati sedang susah, mencoba mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan akan menjadi lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Inilah bukti bahwa ritme mempengaruhi jiwa manusia.
Menurut John M. Ortiz dalam bukunya Nurturing Your Child With Music (2002: 117), ada beberapa pendekatan serta latihan yang dapat dipertimbangkan para orang tua dalam menggunakan musik serta suara.
a. Meluangkan waktu untuk duduk bersama anak dan bergantian memilih lagu dengan pesan positif dan menggembirakan.
b. Meningkatkan latihan musik dengan memainkan lagu-lagu pilihan atau mengajak anak bernyanyi bersama.
c. Mengajak anak untuk menghadiri pertunjukan musik.
d. Membuat kebiasaan baru yaitu meminjam album musik klasik atau moden yang dipilih bersama anak.
e. Mendaftarkan anak ke kursus musik untuk alat musik yang disukai anak.
D. Karakteristik Perkembangan Anak Usia TK (4 – 5 tahun)
Menurut Soemiarti Padmonodewo dalam bukunya “Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah” (1995: 22) menjelaskan karakteristik perkembangan anak usia TK yaitu :
1. Perkembangan jasmani
Ketrampilan motorik kasar dan halus sangat pesat kemajuannya pada tahapan anak pra sekolah. Pada usia 4 tahun anak-anak telah memiliki ketrampilan yang lebih baik, mereka mampu melambungkan bola, melompat dengan satu kaki, telah mampu menaiki tangga dengan kaki yang berganti-ganti. Sedangkan beberapa anak yang telah berusia 5 tahun telah mampu melompat dengan mengangkat dua kaki sekaligus dan belajar melompat tali. Pada usia 4 – 5 tahun, biasanya mereka sudah mampu membuat gambar, gambar orang. Bentuk gambar orang biasanya ditunjukkan dengan lingkaran yang besar yaitu kepala dan ditambahkan bulat kecil sebagai mata, hidung, mulut dan telinga, kemudian ditarik garis-garis dengan maksud menggambar badan, kaki dan tangan.
2. Perkembangan kognitif
Piaget (1969) menjelaskan perkembangan kognitif terdiri dari empat tahapan perkembangan yaitu tahapan sensorimotor, tahapan pra operasional, tahapan kongkrit operasional dan formal operasional. Tahapan anak pra sekolah termasuk dalam tahap pra operasional (2–7 tahun) yaitu kecepatan perkembangan anak bersifat pribadi, tidak selalu sama untuk masing-masing anak. Pada tahapan pra operasional anak-anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya. Tahapan bantuan kehadiran sesuatu di lingkungannya, anak mampu mengingat kembali simbol-simbol dan membayangkan benda yang tidak nampak secara fisik.
3. Perkembangan bahasa
Anak-anak secara bertahap berubah dari melakukan ekspresi suara saja kemudian berekspresi dengan berkomunikasi dan dari hanya berkomunikasi dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan kemauannya, berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas. Anak pra sekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara antara lain dengan bertanya, melakukan dialog dan bernyanyi.
4. Perkembangan emosi dan sosial
Pada tahapan ini emosi anak pra sekolah lebih rinci, bernuansa atau disebut terdiferensiasi. Anak-anak perlu dibantu dalam dalam menjalin hubungan dengan lingkungannya agar mereka secara emosional dapat menyesuaikan diri, menemukan kepuasan dalam hidupnya dan sehat secara fisik dan mental. Dalam periode pra sekolah, anak dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang dari berbagai tatanan yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya.
E. Ciri-ciri Kecerdasan Emosi
Menurut Daniel Goelman dalam bukunya “Emotional Intelligence”, kecerdasan emosi dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya:
1. Internal
a. Pola asuh
1. Pola asuh permisif. Pola asuh permisif yaitu orang tua seolah bersikap demokratis dan sangat menyayangi anaknya. Namun disisi lain, kendali orang tua terhadap anak sangat rendah.
2. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah peran orang tua sangat dominan. Mereka menanamkan disiplin yang ketat dan tidak memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapatnya.
3. Pola asuh otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh ini tetap menambah kendali yang tinggi pada anak namun dibarengi dengan sikap demokratis. Orang tua memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya dan memilih apa yang paling disukainya.
2. Eksternal
a. Teman sebaya
Pada intinya, setiap anak perlu dilatih untuk bersosialisasi dan bekerja sama, kalau kecerdasan emosinya terlatih dengan baik, seorang anak akan berperilaku positif. Misalnya: anak tidak mengganggu teman pada saat bermain.
b. Lingkungan sekolah
Disini yang paling dominan adalah guru. Seorang guru harus bersikap sabar, agar anak dapat bersikap positif.
c. Bermain
Bermain merupakan hal yang esensial bagi kesehatan anak. Bermain akan meningkatkan kerjasama dengan teman sebaya, menghilangkan ketegangan, dan merupakan pengamanan bagi tindakan yang potensial berbahaya.
***
BAB III
METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN
A. METODE PENULISAN
1. Spesifikasi Penelitian
Dalam penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk menggambarkan keadaan sesuatu atau status fenomena. Dalam penelitian ini akan dideskripsikan tentang pengaruh musik terhadap perkembangan kecerdasan emosi anak usia TK.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan salah satu metode pengumpulan data yang bersumber dari pustaka, buku, majalah, internet dan lain-lain. Bahan pustaka berupa referensi yang disalin di perpustakaan dan buku-buku tentang musik dan kecerdasan emosi.
B. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan tugas akhir ini yaitu :
BAB I PENDAHULUAN, berisi tentang : a. Latar Belakang Masalah, b. Perumusan Masalah, c. Pembatasan Masalah, d. Tujuan Penelitian, e. Manfaat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, berisi tentang : a. Hakikat Musik b. Hakikat Kecerdasan Emosi c. Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak melalui Musik d. Karakteristik Perkembangan Anak Usia TK (4 - 5 Tahun) e. Ciri-ciri Kecerdasan Emosi
BAB III METODE DAN SISTEMATIKA PENULISAN, berisi tentang : a. Metode Penulisan b. Sistematika Penulisan
BAB IV PEMBAHASAN, berisi tentang : a. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Usia TK b. Peran Orangtua Untuk Mengetahui Perkembangan Emosi Anak Melalui Musik c. Cara Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak TK
BAB V PENUTUP, berisi tentang : a. Simpulan b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB IV
PEMBAHASAN PENGARUH MUSIK
TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA PRA SEKOLAH
A. Pengaruh Musik Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Usia TK
Musik adalah bahasa dunia dan tidak perlu diterjemahkan. Musik memerlukan tangan, kepala serta hati bergandengan bersama-sama. Masa kanak-kanak adalah masa yang paling menakjubkan, semua dasar-dasar pertumbuhan berkembang pada masa ini. Musik bagi anak dapat berperan sebagai wahana yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dapat berwujud pernyataan atau pesan dan memiliki daya yang dapat menggerakkan hati, berwawasan citarasa keindahan. Musik melalui nyanyian dapat menyalurkan, mengendalikan, menimbulkan perasaan tertentu seperti rasa senang, lucu, haru dan kagum. Hal ini sangat erat berkaitan dengan perkembangan emosi, perkembangan psikomotorik anak juga dapat berkembang melalui musik, misalnya pada saat anak senam.
Kemampuan anak dalam mengungkapkan pikiran melalui nada, emosi (rasa) dan gerak dapat dikembangkan melalui musik. Pada hakekatnya musik merupakan bahasa nada karena musik dapat didengar, dikomunikasikan melalui nada. Musik juga merupakan bahasa emosi karena dapat mengungkapkan perasaan tertentu seperti senang, lucu, haru atau kagum. Melalui gerakan nyanyian/musik memiliki bahasa gerak, karena musik memiliki birama (ketukan tetap dan teratur), irama (panjang pendek bunyi) dan metodi (tinggi rendah nada).
Menurut John M. Ortiz (2002: 149), musik dapat menjadi stimulan yang sehat dan aman. Berikut ini ada sepuluh alasan mengapa musik dapat menjadi stimulan yang sehat dan aman, adalah :
1. Bisa diulang kembali melalui kaset atau CD
2. Alamiah
3. Waktunya tertentu (bisa ditentukan)
4. Bisa diprogram
5. Sangat banyak jenisnya
6. Tanpa prasangka Musik dapat menghibur semua golongan usia, ras, budaya, dll.
7. Selalu optimis
8. Menyegarkan
9. Sepenuhnya ada dalam kendali kita.
10. Menjadi teman yang baik.
Selain itu, musik dan suara-suara lain yang menenangkan dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres dengan :
a. Menurunkan hormon-hormon yang berhubungan dengan stres
b. Mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas, tegang dan dari masalah sehari-hari.
c. Mengaktifkan hormon endorphin alami yaitu berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit.
d. Meningkatkan perasaan rileks.
e. Membersihkan pikiran serta membantu memusatkan perhatian.
f. Menenangkan serta menyelaraskan ritme internal
g. Meringankan perasaan tertekan dan meredakan amarah
h. Menyingkirkan pikiran-pikiran serta perasaan negatif dan mengganggu.
i. Menghalangi masuknya suara-suara bising dari luar yang sering membuat “pusing”.
Jika digunakan dengan kepekaan suara, musik dapat dimanfaatkan untuk : 1. Memotivasi anak untuk berlatih, 2. Meningkatkan kepekaan tubuh 3. Mengaktifkan tumbuhnya ketrampilan motorik besar, 4. Meningkatkan koordinasi, 5. Mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri, 6. Berfungsi sebagai sumber kebahagiaan dan kesenangan 7. Mendorong terjadinya hubungan sosial, 8. Menciptakan lingkungan yang terkendali dimana pengungkapan diri bisa diwujudkan.
B. Peran Orangtua Untuk Mengetahui Perkembangan Emosi Anak Melalui Musik
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan emosi anak. Salah satunya peran orang tua di dalam keluarga akan membentuk “cetakan” emosi seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya seharihari. Gaya pengasuhan yang berbeda pada setiap orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak. Gaya pengasuhan yang baik adalah orang tua yang pemurah – permisif. Gaya ini disebut pemurah dan permisif karena orang tua yang tergolong demikian adalah orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak, tidak terlalu banyak menuntut atau melarang anak. Orang tua yang pemurah permisif adalah orang tua yang hangat, suka merawat dan terlibat dengan anak, tetapi tidak mengontrol anak walaupun tidak terlalu ketat.
Belajar musik merupakan kegiatan yang positif bagi anak. Kegiatan ini mampu mengasah kemampuan fisik, mental sekaligus kepekaan emosi esorang anak secara seimbang. Untuk kesiapan fisik anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Instrumen musik didesain sesuai dengan ukuran anak. Apakah alat musik terlalu berat, terlalu besar atau terlalu banyak menuntut energi fisik bagi anak.
2. Memperhatikan ciri-ciri fisik anak lebih cocok dengan instrumen tertentu.
3. Mengenali anak apakah anak menyenangi atau membenci sensasi yang ditimbulkan oleh alat musik yang dimainkannya.
Orang tua harus memperhatikan kondisi emosi dan perilaku anak. Misalnya, anak yang sangat aktif (hampir tidak bisa diam) tentunya anak akan lebih siap dan cocok apabila belajar drum daripada bola. Sebaliknya anak yang pendiam dan tidak suka ribut akan lebih senang mendengar suara biola daripada terompet. Untuk anak yang lebih suka bekerja sendiri, pilihlah instrumen yang soliter seperti gitar atau piano.
Orang tua berperan sangat aktif selain terus menerus mendorong serta memotivasi anak-anak, orang tua bertindak sebagai pemberi inspirasi dan pelatih ketika anak-anak belajar memainkan alat musik pilihan. Yang harus diperhatikan orang tua untuk mengembangkan dan memperkuat harga diri anak yang positif :
a. Memanfaatkan setiap kesempatan untuk menciptakan harmoni.
b. Mendorong anak untuk mandiri.
c. Mengupayakan keseimbangan.
d. Mengizinkan anak untuk memilih musik yang ingin didengar dan orang tua jangan terlalu
mengatur.
e. Mendengarkan musik sebagai jembatan antar generasi.
Anak mengungkapkan isi dan pesan musin melalui nada, rasa dan gerak. Namun hal itu baru dapat dilakukan dengan baik apabila anak memperoleh pengalaman musik secara langsung. Pengalaman musik diperlukan untuk mengembangkan kemampuan dasar musik anak. Oleh karena itu, orang tua memegang peranan penting untuk meningkatkan kemampuan dasar musik seorang anak.
Menurut Mahmud, AT dalam buku “Musik dan Anak”, kemampuan dasar musik meliputi :
a. Kemampuan mendengar:
Kemampuan mendengar adalah kemampuan yang sangat esensial atau utama. Musik mengkomunikasikan pesan. Pesan akan diterima dengan baik apabila pesan dapat didengar, ditangkap atau dirasakan dengan baik pula. Kegiatan mendengar dapat dilakukan setiap kali mengajarkan nyanyian baru, misalnya dengan alat musik atau dengan senandung kemudian mengulang nyanyian. Jika tersedia kaset musik anak-anak, musik itu dapat diputarkan untuk didengar anak.
Kegiatan mendengar bertujuan antara lain :
a. Menghayati peran birama dan pola irama dalam membangun suasana musik.
b. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan yang diungkapkan oleh musik atau
nyanyian.
c. Menghayati ungkapan musik.
d. Meningkatkan kemampuan mendengar untuk berolah musik dengan baik.
b. Kemampuan memperagakan.
Kemampuan memperagakan ditujukan untuk : 1. Meningkatkan ketrampilan bernyanyi dengan baik dan benar. 2. Mengungkapkan musik atau nyanyian dengan gerak jasmaniah. 3. Meningkatkan kemampuan memilih dan memainkan alat perkusi untuk iringan.
Kegiatan memperagakan dikembangkan antara lain, untuk : 1. Bernyanyi dengan tinggi nada yang murni dan tepat. 2. Memainkan berbagai irama iringan dalam berbagai tanda birama. 3. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan musik atau nyanyian melalui bernyanyi atau alat musik perkusi sederhana.
c. Kemampuan berkreativitas.
Kemampuan berkreativitas adalah kemampuan isi dan pesan musik atau nyanyian dengan perbuatan yang bersifat kreatif. Kegiatan berkreativitas bertujuan antara lain :
1. Mencoba dan dapat memilih alat yang sesuai untuk mengungkapkan isi dan maksud musik atau nyanyian yang diiringi.
2. Meningkatkan kemampuan mendengar musik atau nyanyian dengan mengamati sifat, watak atau ciri khas unsur pokok musik. 3. Meningkatkan kepekaan terhadap isi dan pesan musik atau nyanyian untuk dapat menikmati dan menghargai musik atau nyanyian.
Pengenalan musik kepada anak dilakukan oleh orang tua sejak hari pertama anak-anak mereka lahir harus dilanjutkan dalam setiap tahap perkembangan anak. Bahkan sejak dalam kandungan musik dapat dikenalkan kepada anak melalui suara atau nyanyian ibu.
C. Cara Menumbuhkembangkan Kecerdasan Emosi Anak TK Melalui Musik
Kecerdasan yang sering dinyatakan dengan angka IQ (Intellegence Quotient) bukan satu-satunya jaminan bagi kesuksesan seorang anak di masadepan. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua adalah kecerdasan emosional. Salah satu aspeknya adalah kecerdasan sosial, dimana anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain. Kecerdasan emosi juga meliputi kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri serta mengelola emosi tersebut dengan cara yang benar. Selain itu, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri serta tetap bersemangat untuk menghadapi berbagai kesulitan. (Kumpulan artikel Kompas, 2001:124).
Kecerdasan emosional dapat dilatih pada anak-anak sejak dini. Misalnya, menciptakan suasana kedamaian penuh kasih sayang dalam keluarga, memberikan contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, serta lebih banyak tersenyum dari pada cemberut. Semuanya ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan emosionalnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, refleksi emosi nyata lebih banyak memainkan peran dalam proses pengambilan keputusan atau menampakkan perilaku seseorang ketimbang perhitungan nalar. Seorang anak perlu dibekali kecerdasan emosi yang maksimal sejak dini karena kecerdasan emosi dapat dipelajari dan dilatihkan pada anak. Latihan meningkatkan kecerdasan emosi anak bisa dilakukan oleh orang tua dalam interaksi dengan anak-anaknya yaitu melalui pengasuhannya. Anak yang mendapat stimulasi perkembangan kecerdasan emosi baik. Dengan begitu sikap dan perilaku anak akan berkembangan dengan baik menuju ke arah perkembangan yang positif.
Menurut Dra. Heny Setyawati, M.Si. didalam buku “Pengembangan Potensi Anak Usia Dini”. Untuk mengembangkan emotional intelegence pada anak usia TK, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
a. Agar anak mengerti perbedaan antara yang “baik” dan yang “buruk”. Anak harus mengembangkan
kebiasaan berbuat / berperilaku baik.
b. Anak dapat mengembangkan sikap peduli, dermawan / suka menolong, ramah dan pemaaf.
c. Anak dapat merasakan reaksi emosi negatif misalnya malu, marah, takut.
d. Orang harus membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten.
e. Melatih kejujuran.
Cara menumbuhkembangkan kecerdasan emosi anak usia TK, salah satunya lewat musik. Musik adalah salah satu wahana bagi anak untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan. Kegiatan musik yang dilakukannya sendiri atau bersama-sama dapat membantu anak memantapkan emosi dan menggunakan emosi sebaik-baiknya. Disisi lain, kegiatan musik dapat meletakkan dasar bagi perkembangan minat dan bakat musik anak selanjutnya. Perkembangan itu sendiri tidak terlepas dari sejauh mana anak memperoleh pengalaman musik secara langsung.
Beberapa kemungkinan pengalaman musik yang dapat diberikan pada anak.
1) Nyanyian anak-anak
Nyanyian adalah salah satu perwujudan bentuk pernyataan atau pesan yang memiliki daya
Komentar
Posting Komentar